Silakan berkiunjung… :)

February 28th, 2008 by khantiparamitha

Silakan berkunjung, mau komentar juga boleh :)
http://luhayu.wordpress.com/

Yoga for pregnancy

September 17th, 2007 by khantiparamitha

Kemarin itu pas masuk minggu ke 30. Kemarin juga mulai ikut kelas Yoga for pregnancy. Bukan sengaja di pas in di bulan ke tujuh, tapi memang kelasnya baru mulai kemarin. Ceritanya sebelum hamil, saya memang sudah ikut kelas yoga dan entah kenapa berbarengan juga ada 3 orang selain saya yang hamil. Akhirnya dibentuklah kelas yoga hamil ini dengan member 4 orang hehehe. Dan baru dimulai sekarang karena guru Yoga yang akan mengajar khusus yoga hamil ini baru bisa sekarang ini.

Katanya, kalau ikut yoga hamil akan membantu saat kelahiran nanti menjadi lebih lancar dan mudah. Juga membantu untuk selalu mengkondisikan pikiran si calon ibu dalam keadaan relax dan positive thinking. Secara saya memang sudah jatuh cinta banget sama yoga (walaupun baru sebentar berlatih karena keburu hamil) dan sudah merasakan banget manfaatnya ketimbang sewaktu ikut aerobic atau body language, saya langsung bersemangat untuk ikut kelas. Walaupun di rumah saya berlatih juga khususnya untuk relaksasi dan meditasi, tapi tetap saja takut untuk mencoba gerakan yang saya rasa membutuhkan guru untuk membimbing. Takut belum apa2 udah brojol akibat salah latihan,

kan

nggak banget.

Ya doakan saja ya saya bisa memetik manfaat yoga ini, seperti yang sebelumnya sudah saya rasakan. Kalau memang sukses (oh ya saya juga berlatih hypnobirthing tapi sendirian tanpa guru) saya pasti akan membagi-bagikannya untuk kalian para calon ibu yang lain. Saya membayangkan sebuah kesadaran penuh saat melahirkan tanpa teriakan-teriakan apalagi memaki-maki. Kesadaran akan melahirkan seorang manusia baru, kesadaran yang menenangkan dan indah. Karena menurut saya semestinya sebuah proses melahirkan adalah sebuah proses yang indah karena merupakan pengalaman unik bagi setiap orang. Jadi bukan sebuah kejadian yang traumatis. Sekali lagi mohon doanya ya, semoga saya sukses mengantarkan seorang manusia baru hadir ke dunia ini dengan penuh damai, hati yang tenang dan kondisi yang sadar.

Good Bye Dame Anita Roddick

September 16th, 2007 by khantiparamitha

1845_anita_laughing Saya terlambat mengetahui kalau Dame Anita Roddick telah berpulang pada tanggal 10 Sep 2007 yang lalu. Terkejut dan tidak percaya karena dari artikel-artikel yang saya baca, ia tidak memiliki penyakit berat bahkan terlihat sangat sehat. Rupanya perdarahan otak penyebabnya, penyakit yang sama yang mengantarkan Bapak saya ke peristirahatannya yang terakhir. Sedih. Meskipun saya tidak mengenalnya secara pribadi. Merasa kehilangan karena saya sangat mengagumi semangat dan visi-visinya yang jauh ke depan demi membantu kaum wanita yang tertindas ataupun mereka yang tidak berpunya. Dia ingin membebaskan wanita tidak hanya dari belenggu yang dibuat lingkungan namun juga dari belenggu yang dibuat oleh kaum wanita sendiri. Belenggu yang dinamakan standard kecantikan, yang seringkali justru menyakitkan diri wanita sendiri. Orang baik meninggal akan meninggalkan nama harum. Selama hidupnya dia telah mencontohkan semangat kepada saya. Bahwa banyak cara berbisnis yang baik, yang tidak merugikan lingkungan, yang tidak menyakiti mahluk lain, yang tidak mementingkan keuntungan materi semata. Dia juga telah membangkitkan percaya diri banyak wanita, yang mungkin pernah merasa tidak sempurna karena membandingkan dirinya dengan para wanita model iklan yang dicitrakan sempurna tanpa cela. Sehingga terkadang lupa bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, dan untuk itu mereka menghalalkan banyak cara untuk mencapai suatu standar tertentu yang disebut cantik. Anita Roddick, salah satu tokoh yang saya kagumi sudah pergi. Begitu cepat. Mungkin memang demikianlah orang yang baik, meninggal tanpa perlu merasakan penderitaan terlalu lama. Semoga semangatnya tidak hilang meskipun raganya sudah tidak di dunia ini lagi. Karma baik pasti akan berbuah baik. Orang baik pasti akan terlahir di alam berbahagia.

Tidak menilai, tidak mewarnai

September 10th, 2007 by khantiparamitha

Mendapati kerutan halus di sekitar bibir pada umur hampir 32 tahun, reaksi saya adalah “Oh saya sudah semakin berumur”. Panik? Tidak juga. Cuma langsung mengoleskan pelembab di sekitar bibir hehehe. Biasanya saya memang paling malas untuk urusan seperti ini, seperlunya saja. Kerutan itu juga tidak sampai membuat saya jadi susah tidur. Malah saya tidur nyenyak seperti biasa. Hanya menyadari saja sebuah perubahan sedang terjadi, seperti biasanya. Tentu sering mendengar, tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini kecuali perubahan itu sendiri. Masalahnya adalah kesiapan kita menerima perubahan itu. Seberapa ‘tua’ jiwa kita untuk menerima perubahan. Entah itu perubahan yang menurut kita baik ataukah buruk. Seringkali kita merasa lebih siap untuk menerima perubahan yang kita anggap baik, namun mencoba mengabaikan atau menolak sebuah perubahan yang kita anggap buruk. Dulu pun saya pernah berpikiran demikian. Betapa mudahnya menerima kenaikan level jabatan dibandingkan menerima kerugian usaha. Karena saya menganggap kenaikan jabatan itu adalah sesuatu yang baik namun kerugian usaha adalah sesuatu yang buruk. Padahal saya sendiri tidak tahu sesungguhnya, setelah naik jabatan apakan saya akan mendapati kebaikan semata? Terkadang banyak konskwensi lain yang mesti saya hadapi tanpa saya sadari akan terjadi. Lalu saat menghadapi kerugian usaha, saya menganggap itu adalah kemalangan yang tidak terperikan. Namun yang terjadi terkadang adalah kebalikannya. Tapi berulangkali seperti itu tetap saja saya tidak berubah, masih sedih berlarut-larut saat menghadapi sesuatu yang saya anggap buruk, dan menjadi gembira berlebihan ketika menerima sesuatu yang saya anggap baik dan menguntungkan saya. Sampai kemudian saya menyadari sesuatu, betapa bodohnya saya yang selalu berpikiran seperti itu. Sesungguhnya tidak ada yang baik dan buruk dalam setiap kejadian ini. Segala sesuatu yang terjadi sebaiknya dilihat sebagai apa ada nya ia. Tidak baik tidak buruk, tidak benar tidak salah, namun lihat jalan tengahnya karena sesuatu yang terjadi tidak akan pernah ada ukuran kebaikan dan kebenaranya atau keburukan dan kesalahannya. Sulit memang menjabarkannya apalagi menjalaninya, namun bukannya tidak mungkin untuk menjadikannya jalan hidup. Bukan untuk menjadi manusia tanpa perasaan, tapi untuk menjadi manusia yang mampu melihat segala sesuatu dengan kacamata yang berbeda untuk setiap kejadian yang berbeda. Bukan melihat dengan kacamata yang sama apalagi dengan kacamata kuda. Untuk itu tiada ketakutan melihat kerutan di wajah, namun justru melihatnya sebagai sebuah alur-alur yang menandai setiap jejak langkah yang sudah saya buat. Alur itu yang akan menjadi tanda bagi saya untuk mengingatkan diri sendiri, usia yang bertambah hendaknya menambah usia roh saya. Karena hanya roh yang tua yang mampu melihat segala hal sebagaimana apa adanya ia, tanpa menilai tanpa mewarnai.

PLASTIK YANG BIKIN BINGUNG

July 10th, 2007 by khantiparamitha

Belakangan ini saya dipusingkan oleh menggunungnya kantong plastik pembungkus dari supermarket. Bayangkan sekali berbelanja paling
tidak saya mendapat tambahan 3 kantong plastik baru berbagai ukuran. Meskipun
sudah dilipat dengan cara khusus untuk menghasilkan bentuk terkecil, tetap saja
lama-kelamaan menggunung juga. Sudah pula saya hibahkan plastik-plastik itu ke
nenek yang menjualnya kembali ke warung-warung di kampung, tapi tetap saja perasaan
saya terganggu. Karena bukan saja makan tempat, tapi saya merinding karena benda
itu menjadi indicator bahaya latent plastic yang akan segera dan sudah kita
hadapi. Membayangkan waktu yang dibutuhkan plastik itu untuk hancur di tanah
sudah membuat bergidik. Belum lagi bahan bakunya yang dari minyak tanah, bisa
dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan minyak dalam
perut bumi,berapa biaya dibutuhkan untuk memprosesnya. Kalau semakin
dipikirkan, akan membuat makin sakit kepala.

Akhirnya saya memutuskan untuk membawa plastik
sendiri setiap kali berbelanja ke pasar dan supermarket. Dan ternyata yang
pusing dan memperhatikan masalah  plastik memang bukan cuma saya. Di supermarket dekat rumah ternyata dengan
senang hati menerima pembeli yang membawa kantong plastik sendiri, bahkan memberikan
point  tambahan bagi member, yang bisa
ditukarkan dengan jenis barang tertentu. Lain lagi dengan pedagang di pasar,
mereka akan mengucapkan terima kasih kalau saya bilang saya bawa plastik
sendiri. Jadi mereka tidak perlu keluar biaya tambahan untuk kantong plastik bukan?
Hmm lumayan juga, tingkat pertumbuhan plastik di rumah tidak sepesat
sebelumnya. Namun ternyata tidak semua juga yang berterima kasih. Ceritanya
pernah saya berbelanja di sebuah dept store yang jaringannya tersebar di
seluruh Indonesia, saat di kasir pembeli di depan saya menolak membungkus baju
yang dia beli dengan kantong plastik. Dia bilang dia akan tenteng saja
belanjaannya. Dan sempat saya perhatikan orang itu mengenakan kaos Green Peace,
sepertinya bapak itu salah satu petugas penjaga stand Green Peace yang memang
sedang buka counter di mall tersebut untuk sosialisasi berbahayanya limbah batu
bara. Tahu tidak apa yang dikatakan mbak petugas kasir, “Orang aneh, dikasi
gampang kok maunya susah”. Ow ow berarti sebentar lagi dia akan mengatai saya
orang aneh juga ya hahahaha.Ironis, di depannya buka stand Green Peace tapi
tetap saja mereka tidak mau peduli,
berbeda jika di depannya buka stand baju atau makanan kecil, berdesakan pun
rela untuk melihat. Uh sedih.

Tapi ya memang begitulah, pemahaman akan bahaya yang
mengancam masa depan dunia dan bumi ini belum dimiliki secara merata, apalagi
di Negara berkembang seperti Indonesia di Negara maju saya rasa juga belum
paham semua.

Saya memang bukan anggota Green Peace, yang punya
nyali berdemo demi menjaga bumi tetap lestari. Saya buka anggota kelompok
manapun. Tapi saya bisa berbuat sesuatu dari rumah, meskipun sederhana.
Seperti Jenifer Aniston yang mandi cukup
3 menit dengan shower, karena mandi 2 menit sama dengan menggunakan kebutuhan
air untuk satu hari seorang penduduk Afrika. Mbak Dewi ‘Dee’ lestari punya
pengolahan kompos di rumahnya untuk mengelola sampah rumah tangganya. Saya yakin di luar sana masih banyak yang
peduli pada bumi ini, eh tapi saya menulis ini bukan sok-sok an peduli ya, tapi
sungguh plastik sudah bikin saya bingung.

MANUSIA DENGAN BERKAH AGUNG

July 9th, 2007 by khantiparamitha

Di Barat ada tulisan, “My parent hate me when they that I am a Buddhist but they love me when
they know that I am a Buddha”
.

Orangtua pernah terkejut melihat anaknya karena kerap
masuk vihara. Namun, ia cinta sekaligus bangga ketika melihat putrinya
menunjukkan sifat-sifat bajik setiap hari.

Seperti memberi tanda makna, bukan judul agama yang membuat
seseorang menjadi agung, tetapi kebajikan dalam keseharian.

(Gede Prama)

perasaan sederhana

June 10th, 2007 by khantiparamitha

Baru saja terlibat pembicaraan dengan seorang teman, dia mengatakan bahwa dia baru menyadari bahwa hidup di Bali itu ternyata soooo simple. Tentu saja dibandingkan tempat tinggal dia yang baru sekarang. Kangen nonkrong di Circle K kuta, minum kopi bali, menelusuri jalan-jalan yang dulu terasa biasa saja tapi sekarang baru terasa sungguh luar biasa ketika dia tinggalkan.
Teman saya ini juga yang menanyakan, apakah saya tidak berminat pindah kerja ke luar negeri seperti salah seorang teman saya yang lain, yang bergaji dollar amerika, berfasilitas apartemen dst dst. Jawab saya ketika itu : Sayang sekali, semua itu bukan daya tarik bagi saya.
Mengapa saya dulu menjawab seperti itu? Karena saya sudah menyadari betapa kesederhanaan hidup yang saya alami dan liat di Bali saat ini sudah membuat saya menjadi bahagia. Sederhana, ya hanya itu. Bukan karena saya sudah banyak uang sehingga tidak mau bergaji dollar, bukan karena saya tidak senang melihat sesuatu yang baru sehingga lebih memilih kembali ke kampung halaman saya. Bukan semua itu, tapi karena dengan berpikir sederhana dan hidup sederhana, entah kenapa saya merasa cukup. Jika uang senantiasa menjadi ukuran saya, saya sangat mengenal diri saya, saya tak akan pernah merasa cukup. Sementara melihat dan mengenal sesuatu yang baru adalah passion saya sesungguhnya. Tapi banyak jalan menuju roma, banyak cara kenal dunia. Sedikit demi sedikit dalam kesempatan hidup yang diberikan kepada saya, sudah dan akan saya lihat dunia itu dengan cara yang berbeda dan jalan yang berbeda.
Bukan bermaksud menilai  tidak penting pilihan hidup orang lain, karena bagi saya tidak ada yang tidak penting di dalam kehidupan ini. Bukan juga bermaksud menunjukkan kalau saya adalah orang yang paling bahagia dan selalu benar, sementara pilihan dan pendapat orang lain adalah salah, karena seperti yang saya yakini dan sedang saya latih, tak ada yang benar dan salah dalam kehidupan ini, tapi lihatlah segala sesuatu apa adanya. Dan karena itulah, dengan kesederhanaan hidup saya lebih mudah melihat sesuatu apa adanya dan disini saya temukan perasaan itu. Mudah-mudahan saja saya tidak terjebak dan barhalusinasi di sebuah kondisi yang saya anggap sebuah kebahagiaan ya. Semoga….

untuk kamu, sayangku

June 8th, 2007 by khantiparamitha

knock… knock… knock…
ada siapa di dalam sana?
si cantik atau si ganteng?

hmmm tidak dijawab sekarang juga tidak mengapa
mama sabar menunggu sampai saatnya tiba
yang penting kamu sehat, normal dan sempurna
dan nanti jadi kebanggaan papa dan mama

menghitung minggu demi minggu
membayangkan seperti apa kamu saat ini
mengamati setiap perubahan dalam diri mama
dan tentunya merancang masa depan bersama

senang bercampur cemas
penasaran bercampur khawatir
datang selalu silih berganti
tapi mama selalu nikmati dan syukuri

ikatan mama denganmu semakin kuat
karena adanya campur aduk perasaan itu
kita saling menguatkan ya nak
kita saling menjaga, supaya sembilan bulan ini terlewati sempurna

manusia terlahir karena karmanya sendiri
manusia terlahir membawa karmanya sendiri
manusia terlindung oleh karmanya sendiri
semoga kamupun bisa mencapai dan menjaga kebahagiaanmu

hargai kelahiranmu nanti sebagai manusia ya sayang
sebab terlahir sebagai manusia adalah langka dan mulia
kehadiranmu nanti akan menyuburkan boddhicitta dalam keluargamu

mama yakin itu

Seberapa pentingkah saya bagi orang lain?

May 22nd, 2007 by khantiparamitha

Saya seringkali menerima tuduhan, bahwa saya tidak
menganggap penting seseorang. Alasannya terkadang sepele menurut saya, tapi
mungkin tidak menurut yang menuduh itu. Buktinya dia begitu sewotnya hanya
karena saya tidak memberitahu saya akan cuti esok harinya, bahkan cuma untuk sehari
saja. Mereka bisa sewot karena saya tidak mau bercerita tatkala saya sedang
menghadapi sebuah permasalahan yang mana saya pikir memang bukan untuk
diceritakan saat itu ataupun untuk seterusnya. Begitupun saat saya akan
memutuskan resign dari posisi saya di kantor, padahal itu kan hanya masalah
waktu saja untuk mengetahuinya.

Bukan hanya kepada saya, di lingkungan sayapun saya sering
melihat orang-orang yang dituduh tidak menganggap penting temannya, hanya
karena dia belum mau cerita kalau dia sudah putus dari cowoknya! Astaga padahal
itu kan masalah pribadi yah. Toh pada akhirnya sejalan waktu akan ketahuan
juga, dan apa pentingnya juga orang itu diberi tahu secara real time? Benar-benar
saya tidak habis pikir, demikian banyaknya orang egois seperti itu, atau
barangkali menjadi orang yang pertama kali tahu adalah suatu kebanggaan? Kalau
begitu sekalian saja kerja sebagai reporter berita, dimana hobi itu malah
dibayar, betul tidak?

Seperti saya sebutkan diatas, saya pernah dituduh
mengganggap seseorang tidak penting hanya karena saya tidak memberi tahu dia
kalau saya cuti hari itu. Sempat marah dan kesal. Tapi dicoba juga berpikir
positif, dia begitu merindukan saya yang tidak masuk kantor hari itu hahahaha.
Heran, begitu banyak urusan dan pekerjaan yang harus kita selesaikan, terlewat
memberitahukan soal cuti, bukankah itu manusiawi? Sampai-sampai dia anggap
dirinya tidak penting bagi saya, atauuuu sayalah yang sedemikian penting bagi
dia ya, hahahaha.

Bukankah yang terpenting untuk dianggap penting adalah
seberapa penting tindakan kita dalam membuat hati orang lain bahagia? Membuat
orang lain terlepas dari kesusahannya, itupun kalau kita mampu, kalau tidak ya
tidak apa-apa juga kan? Justru disana untungnya kita tidak diberitahu setiap
masalah orang, memangnya kita mau dan mampu menyelesaikan masalah mereka? Atau
hanya sekedar jadi orang yang pertama tahu, lalu dengan bangga menyebarkannya
kalau kita tahu setiap masalah pribadi orang lain?

Selain dituduh tidak peduli, saya sering dituduh sumber
gossip. Apakah saya salah kalau saya tahu? Sementara bisa dibilang 90% saya
menjadi tahu tanpa saya bertanya. Mereka yang bercerita. Bukan maksud saya
menyombong, sama sekali bukan! Justru bagi saya itu beban berat.  Tapi ironisnya saya dituduh biang gossip hanya
karena saya tidak memberitahu orang itu apa yang saya tahu. Bahkan saat si
penuduh saya itu berseteru dengan seseorang gara-gara dia disebut sebagai biang
gossip, malah nama saya yang di bawa-bawa. “Si Ayu tuh yang tukang gossip,
bahkan akupun tidak bisa mengerti kalau bicara dengan dia”. Lha,saya bingung ya
jelas saja dia tidak pernah mengerti ketika berbincang dengan saya, karena
tujuan dia mengorek info sementara saya tidak mau memberitahu, jadinya nggak
nyambung kan?

Sebenarnya saya tidak ingin tahu dan tidak mau tahu apa kata
orang tentang saya, tapi ya itulah, ada saja yang memberitahu saya. Mungkin ini
pelajaran dan ujian saya, seberapa sanggup saya mengendalikan emosi saya. Dan
seberapa bijak saya bisa menyaring informasi yang disampaikan kepada saya.
Percaya atau tidak terhadap cerita mereka, itu kembali pada keputusan saya.

Jadi yang terpenting sekarang, saya menjadi penting bagi
diri saya sendiri dulu karena kalau saya tidak menganggap diri saya penting
maka saya tidak akan pernah menghargai diri saya. Karena sedemikian berharganya
diri saya, maka saya harus selalu menjaga hati saya dan merawat jiwa saya,
tanpa perlu mendengar komentar-komentar nggak penting seperti itu.

Untuk
itu maafkan saya bagi mereka yang menganggap saya mengabaikan mereka, karena
tidak semua informasi itu untuk disebarkan. Dan maaf juga untuk yang menuduh
saya biang gossip, karena saya tahu saat dia menunjuk saya dengan telunjuknya
dia sedang tidak sadar, empat jarinya yang lain sedang menunjuk dirinya
sendiri.

Ga cuma Oprah, Ija juga bisa

April 29th, 2007 by khantiparamitha

Ija_2Apa yang bikin ija sama dengan Oprah selain model rambutnya?   Ternyata meskipun belum ngerasa udah di posisi lingkaran penuh seperti mbak Oprah, tapi Ija juga sudah bisa berbagi, bahkan secara nggak sadar :)

Oprah_1Menurut mbak Oprah, beliau sekarang sudah berada pada posisi lingkaran penuh, dimana dia sudah bisa berbagi penghasilannya yang berlimpah ruah itu kepada mereka yang membutuhkan, sudah saatnya untuk berbagi, begitulah singkatnya. Teman saya Ija, belum pernah mengungkapkan itu, bahkan mungkin dia belum tahu ada istilah itu ya xixixi. Tapi kemarin dia sudah membagi recehannya dengan mereka yang nggak hanya ditinggalkan, diabaikan keluarganya di panti wredha Wana Seraya Denpasar. Ceritanya Ija itu pindah ke Singapore, gaya pisan lah :P Lalu dia berniat mewariskan baju-bajunya untuk disumbangkan ke panti asuhan di Denpasar melalui saya. Berdasarkan pengalaman selama ini, baju-baju yang disumbangkan teman-teman kantor kebanyakan kebesaran untuk anak-anak panti asuhan, akhirnya kali ini dialihkan untuk para oma/opa dan ninik/pekak di panti wredha aja. Tapi di akhir-akhir hari sebelum meninggalkan bali, Ija berubah pikiran, dia sumbangin uang recehan kembalian belanja selama 2 tahun dia di Bali. Jadilah saya di’bebani (secara duitnya emang berat banget heheheh)’ dengan uang receh sebanyak satu kotak sepatu.

Di rumah, minta bantuan untuk menghitung uang receh itu, menyisihkan permen-perman yang entah karena males atau gimana, dimasukin juga ke kotak sepatu itu, dikumpulkan sesuai nilainya, kemudian di selotip. Akhirnya dapet…lumayanlah pokoknya :) Soalnya kebeli 25 kg beras, 50 butir telur ayam, 4 pak susu kalsium, 2 dus mie instant. Mungkin keliatannya ga seberapa yah, tapi bayangin aja secara ga sadar gitu nabung dari uang kembalian, bisa berbagi sesuatu kepada mereka yang memang membutuhkan :) Nilai uang nggak sebanding dengan niat baiknya kan, apalagi (semestinya ija ikut nih) kalo liat ekpresi mereka yang menyambut kedatangan kita. Mereka ga peduli kita bawa bantuan atau nggak, mereka sepertinya sudah senang ada yang mengunjungi. Sebab, dari hasil interview ibu saya (oh ya kemarin saya kesana ditemenin suami dan ibu saya), mereka itu rata-rata nggak punya anak, atau punya anak tapi anaknya udah meninggal, ada juga yang memang keluarganya ga mau ngerawat lagi bahkan setelah meninggalpun mereka menyerahkannya ke pihak panti untuk mengurus. Sedih yah :(

Jadi makasi ya buat Ija yang sudah mau berbagi, makasi sudah mempercayakan kepada saya untuk menyalurkan. Lain kali kamu mesti ikut, karena mereka pasti senang sekali dihibur oleh kamu ja :D Apalagi pas pulang, ih mereka dadah dadah gitu kaya’ anak kecil. Jadi terharu saya.

Nggak perlu menunggu jadi seperti Oprah kalau mau berbagi. Bener nggak :)